Panggil aku Mahmud!
Sejak awal toko ashir (jus buah) itu di buka di bawah apartementku. Hatiku tertarik dengan sosok kecil yang mengenakan seragam orange yang bertugas sebagai pelayan di toko itu.
Dengan wajah innocentnya ia selalu ceria menyambut kedatangan setiap tamu yang mampir di toko itu. Satu pertanyaan besar yang aku simpan tentangnya. Mengapa saat-saat aktif sekolah seperti sekarang ini bocah seumuran dia kok malah sibuk bekerja?.
Dengan wajah innocentnya ia selalu ceria menyambut kedatangan setiap tamu yang mampir di toko itu. Satu pertanyaan besar yang aku simpan tentangnya. Mengapa saat-saat aktif sekolah seperti sekarang ini bocah seumuran dia kok malah sibuk bekerja?.
Sore ini 29 mei 2006. masih dalam suasana ujian. Aku sengaja menghabiskan waktu soreku dengan sekedar melihat panorama sore dari jendela kamarku di rumah sutuh hayyuttamin. Tiba-tiba mataku tertuju kepada sosok mungil berbaju orange sedang menyendiri di belakang toko ashir itu.
Ku beranikan diri untuk sekedar menyapa dan menanyakan namanya. Dari sana aku ketahui. Bocah imut itu bernama Mahmud.
Dari perkenalan singkat itu. Aku ketahui bahwa dia tidak pernah mengecap yang namanya madrosah (sekolah). Bahkan huruf hijaiyah saja dia tidak kenal. Karena sengaja ku coba menjatuhkan secarik kertas yang berisi pertanyaan “mengapa kamu tidak sekolah” hanya ada kata “ana laa astati’ aqro’” sebagai jawaban bahwa lelaki kecil berumur sebelas tahun itu nggak bisa baca sama sekali.
Menyedihkan sekali. Seorang mahmud adalah generasi Islam, yang lahir dan tumbuh di lingkungan yang masih kental dengan budaya dan peradaban Islamnya namun di usia lebih sepuluh tahun malah belum bisa membaca walau sekedar tulisan yang tertulis di dalam kitab sucinya (Al-qur’an).
Hanya satu mahmud yang sempat aku kenali. Aku yakin masih banyak Mahmud-mahmud lain yang tersebar di serata negri yang bergelar kinanah ini. mereka ibarat ayam yang kelaparan di lumbung padi.
Apa nasib dienul-haq ini jika generasi penerusnya terus di biarkan mendekam dalam ketertinggalan. Kapankah derita-derita saudara muslim mampu meyentuh rasa kemanusiaan kita? apakah setelah semua tewas di lantak serdadu zionis baru kita sadar bahwa merekalah saudara kita? kapan hati-hati kita tersadar untuk saling ta’awun.
Sedang di ajak untuk boikot atas produk yahudi saja kita masih banyak berdalih. “gimana lagi rambut ana cocoknya pake had and soldiers, ana nggak bisa dekh nggak minum nestle abis kalo susu lain kandungan kalsiumnya kurang. Dan macam-macam lagi dalih kita untuk sekedar mempertahankan argument karena kita tak mampu untuk merasa bersaudara dengan sesama Islam.
Contoh kasus Mahmud ini baru di negri mesir yang masih aman dan tentram. Bagaimana nasib saudara-saudara kecil kita di Palestine yang terpaksa mempertahankan hidup di tengah-tengah derasnya hujan peluru yahudi. Di Irak bahkan di negri kita Indonesia yang akhir-akhir ini terus di timpa musibah. Adakah yang sudi menghulurkan tangan? Memancarkan kasih sayang keserata penjuru bumi.
Let’s keep Our Islam!
Aku di sudut kota Cairo.

