Mega senja

Dua puluh satu tahun kutinggalkan tanah tempat aku dilahirkan. Kutinggalkan pulau kecilku bersama kedua orang tuaku dengan tekad meninggalkan kemiskinan dan keterpurukan yang selama ini melanda keluarga kami. Namun Bukan keterpurukan saja yang kami tinggalkan, tetapi sosok kakekku yang sudah renta juga turut kami tinggalkan, karena kekerasan hatinya lebih memilih untuk tetap tinggal dipulau ini.
Kadang aku berpikir ayah begitu kejam meninggalkan kakekku diusia senjanya. Tapi sekarang baru aku faham betapa kemiskinan jauh lebih kejam. Ayah takkan mampu menghidupi kami kalau memang harus tetap tinggal disini. Bayangkan saja ayahku yang berprofesi sebagai dokter kecamatan harus harungi laut untuk berikan sesuap nasi untuk kami, karna memang jarang ada penduduk mau berobat kepada ayah, mereka lebih percaya kepada bomoh(dukun) daripada tenaga medis seperti ayah.
Saat ini kembali kuinjakkan kaki ketanah kelahiranku, karna setumpuk amanah ayah yang aku pikul. Yach…kini ayahku telah pergi dipanggil yang kuasa. Kerinduanku kepada pulau ini juga tak lagi dapat kuredam. Ingin kusampaikan kabar gembira kepada kakek bahwa aku telah menyelesaikan studyku dibidang ilmu kelautan.
Huhh…. Aku melompat dari pong-pong yang mengantarkan aku kepulau kecilku, pulau Guntung tercinta. Dari pelabuhan membutuhkan waktu perjalanan lima belas menit untuk menuju rumah kakek.
Pulau kecil itu masih seperti dulu, tak banyak yang berubah. Karna memang terletak jauh dari ibukota kepulauan Riau. Yach…bisa dibilang IDT. Kutelusuri jalan setapak yang nampak basah sepertinya hujan baru saja berhenti. Dari kejauhan telah tampak perumahan penduduk yang jarang-jarang. Ketika sampai dipembelokan, terlihat olehku rumah yang dulu merupakan tempat bermainku, rumah sahabat kecilku seorang warga keturunan cina” Mega Mera Fitria” dengan nama cina Mei-cha. Tampak dari luar rumah itu tak lagi terurus, rumput-rumput tumbuh menggapai daun jendela. Sepertinya rumah itu tak lagi berpenghuni.
Kuteruskan perjalananku, sambil sesekali memperbaiki letak ranselku yang selalu protes karna kepenuhan isi didalamnya. Dari kejauhan telah nampak pohon pinang depan rumah kakek. Pohon yang sudah teramat tua…(pikirku)namun pohon itu telah banyak menyimpan kenangan masa kecilku.
“Assalamualaikuum….”
Kuketuk pintu sambil mengucapkan salam. Namun tak ada jawaban.
“Assalamualaikuum…” ( kembali kuulangi salamku)
“Waalaikum salaam…” terdengar jawaban dari arah belakang, tapi itu bukan suara kakek.
”Maaf pak,…, pak haji Zainalnya ada?” ( tanyaku sesopan mungkin)
“Anak ini siapa?” ( orang itu balik bertanya)
“ Saya Senja, cucu haji Zainal…” ( kataku memperkenalkan diri).
“ Ini Senja.., sudah besar kau nak, kau lupe dengan pak Utih….”(Pak Utih berkata dengan logat khas melayu pulauku)
Segera kuraih punggung tangan yang sudah nampak keriput itu, Kucium tangan pak Utih. Seketika Pak Utih memelukku dan terdengar olehku isak tangisnya.
Mengalirlah cerita pak Utih tentang kakek. Kakek yang telah meninggal dunia lima tahun setelah kepergian kami .Spontan ada beban dan kecewa disudut hatiku, Kakek….maafkan kami yang telah meninggalkan dirimu seorang diri, kepergianmu pun kami tak tahu (rintihku dalam hati).
Kumasuki ruangan kecil itu, ruang tamu yang telah banyak menyimpan kenangan bersama kakek. Ada rona sedih berkeliaran direlung hatiku. Dirumah inilah aku menuai belas kasih kakek, dan disofa tua itulah aku selalu terlelap dan kemudian digendong menuju kamar. Terkadang aku sengaja pura-pura tertidur, agar kakek menggendongku. Airmataku terus mengalir, memoriku bersama kakek datang silih berganti. Hampir sejam aku menangis. Inilah kesedihan teramat dalam yang pernah kurasakan.
Sore ini langit tampak cerah, aku keluar rumah untuk menghirup udara sekitar. Kulemparkan pandanganku kepekarangan belakang rumah. Hamparan pantai putih dengan semilir angin mengantarkan gelombang ketepian. Burung camar berdansa bersama nyanyian alam. Pemandangan yang telah lama kurindukan.., Yach…Mega merah diwaktu senja sungguh indah.
Aku setengah berlari, kemudian berteriak, “ Megaa…..!!!” entah mengapa kata itu terlontar dari bibirku. Suasana pergantian terang menjelang awan gelap cukup mewakili perasaanku. Senja yang menampilkan mega kemerah-merahkan mengingatkanku kepada sahabat kecilku Mega Mera Fitria atau Mei-Cha. Seorang gadis keturunan bermata sipit. Bermain bersama mega ditepi laut waktu sore saat ini tinggal kenangan.
Aku teringat akan janji ayah kepada pak Akiang. Toke kopra yang juga sahabat kental ayah. Pak Akiang yang pernah kecewa dengan istrinya (Ibu Mega) yang tega meninggalkan keluarganya, hanya karna ingin mendapatkan kemewahan hidup dikota.
Saat itu pak Akiang salut kepada bundaku, seorang muslimah kaffah yang selalu menerima penghidupan apa adanya dengan lapang dada. Padahal, waktu itu kehidupan kami jauh lebih miskin dibandingkan mereka. Karna alasan itulah Pak Akiang bertekad ingin mengajak Mega menjadi penganut muslim.
Kepulanganku kepulau ini, selain untuk kakek, juga untuk penuhi janji ayah pada pak Akiang, Masih jelas kuingat percakapan mereka waktu itu.
“ Haris…, apakah engkau benar-benar akan meninggalkan pulau ini?”(Tanya pak Akiang pada ayah)
“Akiang.., bukankah kita wajib memperbaiki kehidupan keluarga kita?”(jelas ayahku).
“ aku ingin Senja yang menemani Mei-Cha kelak mereka dewasa, Aku ingin Senja yang membimbingnya menjadi Muslimah sejati”( Pak Akiang berkata penuh harap pada ayah). “Insya Allah, Jika Allah mengizinkan dan jika ada umur panjang, suatu saat nanti kan kusuruh Senja menjemput Mega…Kita berdo’a semoga rencana ini dikabulkan oleh Allah…”( Kata ayah waktu itu sambil berpamitan pada pak Akiang).
Aku yang saat itu masih kecil tidak mengerti akan maksud perkataan mereka berdua.
Lamunanku sirna, aku kembali kealam nyata. Masih ditepi pantai, dibelakang rumah kakek. Aku terpaku menatap lautan luas nan biru. Seketika pandanganku tertuju pada sosok gadis berjilbab yang baru datang. Sepertinya dia pincang. Kulihat ada buku dan pena ditangannya, dan segera menaiki kapal rongsokan yang terletak tidak terlalu jauh dari tempat aku berdiri. Kehadirannya telah menyita perhatianku.
**************
Hari ini hari ketiga aku berada dipulau ini. Aku masih sibuk berfikir tentang tanggung jawabku kepada Mega. Aku belum berani membicarakan masalah ini secara terang-terangan kepada pak Utih. Mungkin karna aku belum pernah terpikir soal ini sebelumnya. Atau lebih tepatnya, aku masih ragu-ragu akan sikap yang harus kuambil.
Pergolakan batinku mengatakan antara siap dan tidak untuk melamar Mei-Cha sekaligus menjadi pembimbingnya mengarungi bahtera kehidupan bersama dalam nuansa penuh keislaman.Karna aku sendiri merasa pemahamanku tentang Islam masih dangkal. Kebimbangan dan keraguan makin mengusik relung batinku yang paling dalam…
Sore ini, seperti biasa aku akan menyambut hari gelap bersama Mega kemerah-merahan. Seperti pemandangan yang pernah aku lihat sebelumnya, aku melihat gadis pincang yang sedang duduk dikapal rusak itu. Kali ini kucoba untuk mendekatinya. Kukumpulkan segenap kekuatanku untuk memulai percakapan dengannya, Gadis itu sedang asyik bersama buku dan pena yang ada ditangannya, kulihat dia sesekali komat-kamit sambil memperbaiki kacamata minusnya seolah tak peduli akan kedatanganku. Dia memang bukan mega... pikirku. Kak mega...! tiba-tiba terdengar olehku suara dari kejauhan, kulihat ternyata ujang anak pak utih. Aku masi ragu dimana Mega.? mataku kembali tertuju pada sosok gadis berjilbab di hadapanku. Rona wajahnya berubah spontan,mukanya pucat pasi dia gelagapan dan buru-buru pergi. Mega..!! panggilku. Namun dia terus berlalu tampa menoleh, kulihat dia tersandung dan buku yang di gengamnya lepas. Kemudian dia langsung berdiri danpergi tampa memperdulikan bukunya. Aku hanya terdiam seribu bahasa aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Kuraih deary ungu miliknya. kubersihkan butiran pasir yang melekat di sana.
****************
lembaran deary ungu berisi goresan indah milik mei-ca ....
"Kutunggu kedatangan senja"
senja... ingatkah kau akan janjimu
kan temani mega di kaki langit...
tapi mendung datang lenyapkan engkau
serta telan ceria si mega merah....
senja..
aku yakin mendung akan pergi
dan engkau akan datang tepati janji...
04 april 2002
untaian puisi-puisi hiasi lembar demi lembar deary mei-ca. Mei-ca dengan izin tuhan aku akan tepati janjiku. desahku dalam hati. ada rangkaian tanya dalam benakku, ada apa gerangan yang jadikan megaku tak lagi berseri. kucari imfo lewat pak utih. ternyata megaku di rundung malang setelah pak akiang ayahnya meninggal dunia. tak cuma itu ternyata kini allah masi mau mengujinya dengan kanker tulang yang kini berakar di kakinya. ya allah izinkan aku penuhi janji ayahku. insyallah besok aku akan menemui mei-ca tuk tunaikan segala janji.
hari ini badanku terasa lelah setelah seharian menolong pak utih membelah kayu. menjelang asyar aku pulang mandi sholat dan kemuadian tertidur. masyallah.. aku baru terbangun setelah ku dengar azan magrib berkumandang.. ya allah bagaimana janjiku untuk menemui mega.. ya sudahlah masih ada hari esok pikirku.
aku bergegas wudu dan pergi kesurau. seusai solat aku pulang dan ingin sekedar lewat di depan rumah mei-ca. aku lihat ada beberapa orang penduduk di sana... kemudian terdengar olehku pengunguman dari surau... pengnguman itu jelas terdengar di telingaku. ya allah apakah aku sedang bermimpi? aku langsung menuju ke rumah mega. ternyata sudah ramai orang di sana. aku dapati tubuh terkulai kaku milik mega. mei-ca....!!!! tangisku tak lagi dapat kubendung.
haruskah aku menyesali semuanya..? menyesal untuk kebaikan dan janji yang aku tunda.
selamat jalan "mega mera fitria"
maafkan senja yang tak sempat tunaikan janji. karna janji allah mengatasi segalanya...
Pemandangan mega merah di senja hari
di lantai 2 asrama al-azhar
darel-hikmah Pekan baru
suhaila.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home