way of live

ya Allah jadikanlah cintaQu utuh untukMu dan berikanlah kepadaQu cinta orang2 yang mencintaiMu....

Name:
Location: Cairo

assalamualaikum. di malam nan sepi aku masih sibuk menegelus komputerku tersayang yang baru di perbaiki dengan harapan nggak bakalan rusak lagi... kalau hati sedang galau pikiran kacau dan tidurpun meracau... saat itu aku pengen minum es-cincau... he.he welcome to my blog. wss

Saturday, July 30, 2005

Pantaskah berharap syurga

Apakah Pantas Berharap Surga...?!!!!
Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud)
juga hanya dua rakaat,
itu pun sambil terkantuk-kantuk.
Sholat lima waktu?
Sudah jarang di masjid, milih ayatnya yang
pendek-pendek pula...
Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah,
Dilipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu.
Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah
shalat wajib.
Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk
catatan:.....
"Kalau tidak terlambat" atau "Asal nggak bangun
kesiangan".
Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli
ibadah?
Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi
malam-malamnya....
dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah.
Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena
terlalu lama berdiri dalam khusyuknya.
Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya
berharap ....
Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh
mereka.
Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat
meninggalkan semua aktivitas ....
menuju sumber panggilan, ....
kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk
bersimpuh....
di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.
Baca Qur'an sesempatnya, tanpa memahami arti dan
maknanya,
apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya.
Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun
membuat dada ini bergetar,
padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah .....
ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah
hatinya.
Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari,
itu pun tidak rutin.
Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas.
Yang begini ngaku beriman?
Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan
nafas mereka ...
untuk meredam getar yang menderu saat membaca
ayat-ayat Allah.
Sesekali mereka terhenti, ......tak melanjutkan
bacaannya
ketika mencoba menggali makna terdalam ....
dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya.
Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan
tetes air mata.
Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah
....
bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah yang
melafazkan ayat-ayat Allah ...
dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi.
Bersedekah jarang, begitu juga infak.
Kalau pun ada, itu pun dipilih mata uang terkecil yang
ada di dompet.
Syukur-syukur kalau ada receh.
Berbuat baik terhadap sesama juga jarang,
paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial,
yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudahlah jarang
beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit,
senyum.
Apa sih susahnya senyum?
Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan
dan Kasih Allah?
Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui,
senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan
perhatiannya,
juga pembelaannya bukan semata miliki Khadijah,
Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain.
Juga bukan teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah
lainnya.
Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua
yang dijumpainya, ...
bahkan kepada musuhnya sekali pun.
Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba
beramal shaleh,
berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan
sebaik-baiknya.
Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah
kanan, ....
ya tetangga sebelah kiri.
Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh
temeh,
tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari,
kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan.
Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib
dan kejelekan saudara sendiri.
Detik demi detik dada ini terus jengkel...
setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap
orang lain celaka ...
atau mendapatkan bencana.
Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam
dada ini?
Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan
Allah dan Rasulullah kelak?
Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya
....
kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga
Allah kelak.
Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para
pemilik wajah indah pula.
Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang
dicintai Allah itu?
Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara
sendiri?
Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat.
Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah,
sering membuat kesal hati mereka,
apalah lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah.
Padahal mereka tak butuh apa pun ...
selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang
telah mereka besarkan ...
dengan segenap cinta.
Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah.
Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap
surga Allah?
Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih.
Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita
merengkuh surga.
Bukankah Rasulullah yang tak beribu memerintahkan
untuk berbakti kepada ibu,
bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum
kemudian nama Ayah?
Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat ......
masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup,
kaki mulia tempat bersimpuh,
dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan?
Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi
mendapatkan kesempatan itu.
Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang
terkasih itu...
hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan
kehadiran mereka?
Jangan tunggu penyesalan. .....


Bagaimanakah sikap kita ketika bersimpuh di pangkuan
orang tua ....
ketika iedul Fitri yang baru berlalu ....???
Apakah hari itu....hanya hari biasa yang dibiarkan
berlalu tanpa makna.........???
Apakah siang harinya....kita sudah mengantuk....dan
akhirnya tertidur lelap...?
Apakah kita merasa sulit tuk meneteskan air mata...???
atau bahkan kita menganggap cengeng......???
sampai sekeras itukah hati kita....???
Ya...Allah ....ya Rabb-ku......jangan Kau paling hati
kami menjadi hati yg keras......,
sehingga meneteskan air matapun susah.......
merasa bersih......merasa suci....
merasa tak bersalah......merasa tak butuh orang
lain......
merasa modernis.....dan visionis.........
Padahal dibalik cermin masa depan yang kami
banggakan.....
terlukis bayang hampa tanpa makna.....dan kebahagiaan
semu penuh ragu.....
Astaghfirullaah ......Yaa Allah...ampunilah segenap
khilaf kami. Amin...
sebuah renungan....untuk sebuah perjalanan.. untuk kita hayati.... wassalm.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home